Tampilkan postingan dengan label My Self. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Self. Tampilkan semua postingan

Sakit Ini 2 : Akhirnya Operasi Juga

Seli dan aku hari pertama opnam
Akhirnya Senin, 23 Maret 2015 aku opnam di rumah sakit Sardjito, Yogyakarta. Awalnya karena aku diberitahu sama temenku Sari yang bekerja di Sardjito, dia bbm aku dan bilang bahwa ada kamar kosong kelas VIP di Sardjito. Bergegas sekitar jam 09.00 aku ke Sardjito dan menanyakan hal tersebut. Benar jika ada kamar kosong 1 kelas VIP di bangsal Cendrawasih No 102. Tanpa ragu-ragu lagi aku memberanikan diri untuk mengurus segala administrasinya agar bisa segera opnam dan melakukan operasi. Mulai dari jam 09.00 hingga pukul 13.00 saat itu juga aku langsung opnam dan hanya Aida yang menemani untuk segala urusan opnamku hari itu juga. Bingung awalnya karena ternyata setelah mengurus administrasinya aku langsung opnam dan belum sempat memberitahukan ke keluarga dan teman-teman. Hingga sore harinya sekitar pukul 16.00 sudah mulai berdatangan teman-teman menjenguk dan menawarkan diri untuk menemani jaga aku selama opnam. Hari pertama ada Sari, Mbak Lina dan Mbak Ika yang menjaga aku. Selepas maghrib kami berempat berbincang-bincang sambil menemani para tamu yang silih berganti berdatangan. Namanya juga anak muda, yang awalnya berempat datang kakakku dan teman-temannya langsung deh begadang rame-rame dirumah sakit. Berasa saat itu aku benar-benar tidak menyangka bahwa esok harinya aku harus operasi tumor payudara. Karena lewat pukul 00.00 aq harus berpuasa saat itu hari pertama dirumah sakit aku baru bisa tidur sekitar pukul 00.30.
Keesokan harinya yaitu hari Selasa 24 Maret 2015 . . .
Beberapa jam sebelum operasi
Dokter sejak pagi sudah mengingatku bahwa sekitar pukul 09.00 akan segera dilakukukan operasi pengangkatan tumor jinak. Benar sekitar pukul 09.10 aku dibawa ke ruang operasi menggunakan kursi roda. Aku berpikir bahwa didalam ruang operasi begitu seram tapi ternyata tidak, disana ada juga 2 orang ibu-ibu yang mengidap penyakit yang sama dan bersiap untuk dioperasi. Tepatnya jam berapa aku tidak tahu, tetapi setelah menghabiskan 2 infus dan dibawa ke ruang yang begitu dingin sembari diajak mengobrol tiba-tiba saat itu aku tertidur. Mungkin beberapa saat ketika aku tertidur itulah dilakukan operasi, sama sekali tidak merasakan sakit apa pun. Dari pukul 09.10-13.00 aku tiba-tiba sudah terbangun di ruang opnamku, mungkin itulah efek dari obat bius totalnya. Karena saat itu aku masih merasakan pusing,  aku meminta ijin untuk tidur dan baru sekitar pukul 16.00 aku sudah terbangun lagi dengan keadaan yang lebih baik selepas pembiusan total tersebut.
Terasa pegal dan dibalut kemben payudaraku pasca operasi tersebut. Saat itulah mulai semakin banyak tamu yang berdatangan untuk menjenguk. Meski begitu aku sama sekali tidak merasakan sakit kecuali saat itu ada hal yang membuat orang ketawa. Sore itu perawat masuk untuk mengambil cek darah dengan cara disuntik, jujur aku sama sekali tidak takut dengan jarum suntik tapi saat itu ketika disuntik dibagian lengan sebelah kiri kemudian disuntik dibagian nadiku, tiba-tiba secara reflek aku menarik suntikan dari perawat tersebut sambil menjerit kesakitan. Hahahaha, seketika saat itu orang ketawa dan mencoba menahan tanganku dan disuntik kembali dibagian yang berbeda. Sungguh sakit sekali saat itu...
Alhamdulillah..
Berkat rasa optimisku dan mantab untuk operasi, semua diberikan kelancaran sama Allah SWT. Aku hanya 4 hari disana dan hari Kamis aku sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Semua berkat kehendak-Nya yang selalu memberikan kelancaran bagi umatnya yang selalu percaya akan kuasa-Nya. Semoga kedepannya, benjolan ini tidak lagi tumbuh dan aku diberikan kesehatan lagi untuk menjalani hidup yang lebih baik dan lebih sehat lagi. Terima kasih juga buat keluarga, sahabat, pacar dan teman-teman yang terus menerus memberikan suport dalam menghadapi cobaan ini.
I LOVE YOU ALL...
Tips:
  1. Kurangi gorengan pinggir jalan yang minyaknya sudah hitam
  2. Makanan yang bersantan
  3. Bebakaran yang langsung terkena dengan pemanggangnya
Hari ke-2 pasca operasi (1)
  
Hari ke-2 pasca operasi (2)



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sakit ini 1 : Benjolan Apa ini Tuhan?

     Aku adalah seorang wanita berusia 21 tahun. Aku tumbuh dari keluarga yang sudah tidak lengkap, artinya bahwa aku sudah tidak memiliki ibu kandung karena beliau meninggal dunia ketika aku berumur 9 tahun. Beliau meninggal karena divonis mengidap kanker payudara dan dari sinilah cerita aku akan dimulai . . . 
     Sudah beberapa bulan belakangan ini terdapat benjolan di payudara aku sebelah kiri. Awalnya aku kira adalah benjolan biasa yang mungkin bakalan hilang dengan sendirinya. Hingga pada akhirnya aku mencoba mencari tahu via internet apa makna benjolan yang ada di dalam payudaraku ini. Salah satu artikel yang aku baca bahwa ada kemungkinan itu sebuah tumor atau kanker. Kanker ini bisa diakibatkan dari adanya riwayat keluarga yang juga mengidap penyakit yang sama. Seketika saat itu aku dibuat bingung dan takut setengah mati.
    Baru pada bulan ini Januari 2015 aku beranikan diri untuk memeriksakan diri ke sebuah laboratorium Parahita yang ada di Jalan Dr. Soetomo Yogyakarta. Untungnya lab ini tidak begitu jauh dari kos tempat aku tinggal selama di Jogja. Pagi aku coba cek sekitar pukul 09.00 dan langsung dokter berkata bahwa memang ada indikasi benjolan itu berupa tumor. Akan tetapi hasil pastinya baru bisa keluar sore harinya sekitar pukul 15.00. Selain itu juga dokter langsung menyaranku untuk melakukan operasi guna untuk mengangkat benjolan itu. Nafsu makan yang biasanya aku habis banyak, saat itu pula berbalik 180 derajat jadi tidak nafsu makan apa-apa saking kagetnya. Meskipun saat itu aku sedang menjalani UAS di kampus, tapi aku tidak ambil pusing untuk bagaimana langkah kedepannya.
     Aku segera pulang kerumah untuk membicarakan semua ini bersama keluarga aku. Papi saat itu langsung menyetujui aku untuk segera mengurus surat-surat kelengkapan untuk melakukan operasi di Rumah Sakit Sardjito sesuai dengan saran dokter dari lab Parahita tadi. Sampai pada akhirnya hari ini aku bersyukur sudah melengkapi semua berkas-berkasnya. Dari mulai mengurus surat pengantaran dari Puskesma, surat rujukan ke RS Sardjito melalui RS Muntilan tempat tinggal aku, hingga pada keesokkan harinya aku mengurus segala kelengkapan di RS Sardjito sebagai rumah sakit rujukanku. Memang agak ribet juga apa lagi aku menggunakan jasa kesehatan Aske/BPJS jadi sudah bersiap-siap untuk di lempar dari ruang A sampai ruang Z demi mendapatkan ruangan opname dan laboratorium USG kembali.
     Mungkin seperti ini dulu karena insyaallah aku besok cek USG di RS Sardjito lagi. Semoga benjolan ini hanyala benjolan tumor jinak yang membutuhkan satu kali operasi pengangkatannya, amin... Tetap optimis, semangat dan ikhlas dengan segala sesuatu. Ini ujian dari Allah SWT yang harus aku jalani dan disinilah aku harus kuat menghadapinya. Dibalik ini semua aku percaya  Allah SWT telah menyiapkan hal-hal indah yang lainnya, dan yang pasti hal TERBAIK bagi hidup aku, amin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

"Mbak" dan Efek Sampingmu

Semenjak ibu meninggal sejak aku umur 9 tahun, efeknya baru kerasa saat-saat ini. Dulu aku sudah terbiasa ada sosok "mbak" (pembantu) didalam rumah yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari bersih-bersih, mencuci, menyetrika dan masak. Hanya saja setelah ibu meninggal dan papi sempet jadi single parent, seketika semua urusan pekerjaan rumah papi yang nanggung. Aku masih kecil saat itu, kelas 4 SD dan kakakku kelas 1 SMP. Urusan bersih-bersih, mencuci dan menyapu masih bisa kami tangani tapi kalau urusan dapur selalu papi yang mengurusnya. Tak selang setahun kemudian, kami dapat "mbak" lagi yang mau menyelesaikan pekerjaan rumah, setidaknya beban papi sedikit berkurang. Adanya mbak sangat membantu terlebih urusan rumah dengan kondisi saat itu tidak ada sosok seorang ibu dirumah.
Kebiasaan itulah yang kini sangat bisa aku rasakan efek sampingnya. Semenjak ibu meninggal dan ketergantungan karena adanya "mbak"  inilah yang membuat aku sampai saat ini belum begitu mahir terlebih untuk urusan dapur. Gimana tidak, sejak kecil sudah tidak ada ibu yang dapat aku temani di dapur dan semenjak itulah ketergantungan urusan dapur diserahkan ke "mbak."
Nah, sekarang? Setelah aku beranjak dewasa ini, yang kelak akan membangun sebuah keluarga? Tidak bisa membedakan mana itu merica, ketumbar dan miri?
Sungguh memalukan... 
Yaa, memalukan memang seorang cewek belum bisa memasak huft..
Jujur aku merasakan itu, beban tersendiri dalam hidupku jika kalian tahu. 
Aku malu ketika teman-temanku bercerita tentang kesibukannya mereka dirumah untuk memasak. Merasa di tampar keras kalau aku denger itu. Belum lagi kalau melihat bagaimana temanku membuat sebuah masakan yang kemudian disajikan buat kita semua orang-orang disekitarnya atau lebih nyesek lagi kalau melihat teman kita asyik berada didapur bersama ibunya untuk membuat masakan bersama-sama bagi kita semua, yang pasti bangga dan memiliki kepuasan tersendiri, dan sedangkan aku? Aku didalam hati hanya bisa menunduk malu..
Bagaimana aku bisa memasak jika dari dulu hidup aku sudah seperti ini. Dimanjakan oleh "mbak" dan tidak memiliki ibu yang kebanyakan dari teman-temanku jika mereka bisa memasak karena dibantu oleh ibunya. Sedangkan aku? Kepada siapa aku harus bertanya?
Aku inget betul kalau dulu ibuku pandai memasak, beliau bahkan mengoleksi berbagai alat-alat dapur yang sebagian kini masih tersimpan. Bahkan kalau uda mendekati lebaran, ibu selalu membuat kue kering sendiri, kadang yang harusnya berbentuk bunga malah dibuat bentuk mobil sama papi atau mas saat itu.
Jujur, aku sering membayangkan kalau masih ada ibu mungkin aku bisa seperti mereka, Membuat masakan yang nantinya akan aku sajikan buat kalian semua dan yang pasti kalian akan ketagihan karena resep dan bantuan dari ibu. Sayang itu hanya berandai-andai...
Kini hidup aku berbeda, aku harus memulai dari NOL untuk menghafal semua jenis rempah-rempah didapur. Tanpa bantuan ibu yang tidak mungkin bisa membantuku. 
Ini mungkin cerita yang sepele tapi apa pun itu jangan dianggap enteng karena aku tau meski aku telah terlambat untuk belajar memasak, hal itu harus tetap aku pelajari dengan perlahan. Kelak itu akan sangat bermanfaat ketika aku telah berkeluarga besok. Meski aku tidak bisa menyajikan masakanku sekarang buat orang-orang disekitar tapi aku akan berusaha akan menyajikan masakanku untuk keluarga kecilku besok!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Ungkapan yang Tersembunyi

Ada kalanya tidak semua hal bisa kita ceritakan atau kita bagi dengan siapa pun itu orangnya. Ntah itu karena hal yang benar-benar privasi buat diri kita atau bahkan karena kita sendiri yang tidak bisa merangkai kata-kata untuk menyampaikannya. Bisa jadi karena faktor tidak ingin ada yang tersinggung atau tersakiti dengan kata-kata yang nantinya kita ceritakan.
Langsung saja cerita kali ini lagi, lagi dan lagi tentang cowokku, Dion. Aku dulu sempat marah dan ngambek ketika dia hilang begitu saja tidak ada kabar. Kebiasaan dia yang pergi tanpa pamit, online tiba-tiba off tanpa pamit, di telp kemudian hening tanpa suara begitu dan begitu seterusnya.
Aku tidak mau menuntut dia setiap hari harus kasih kabar, tapi aku cuma ingin dia tidak datang dan menghilang begitu saja.
Aku disini menunggu... menunggu dan berharap aku bisa berkomunikasi dengannya.
Seiring berjalannya hubungan kami ini, satu sama lain juga telah saling mengenal dan memahami kebiasaan masing-masing (terutama aku yang kini mulai hafal dengan kebiasaannya.) Aku tahu dia capek, aku tahu jadwalnya dia pasti padat dan aku pun tahu dia juga berusaha untuk dapat berkomunikasi meski dengan peraturan-peraturan dia disana, tapi semua itu aku hadapi dengan kesabaran. Yaah, dia memang bukan cowok yang memiliki kehidupan bebas seperti di luar sini. Jujur terkadang aku merasa kasihan, ketika dia memiliki banyak waktu luang yang mungkin jarang sekali dia dapatkan, dia justru mempergunakan waktu itu untuk meneleponku (yaaaah, meski ujung-ujungnya tidak sampai 60 menit dia sudah tertidur) dan sifat dia yang satu ini pun masih dia terapkan sampai saat ini. Boleh saja kalian kira aku cewek yang tidak beruntung, sudah dibela-belain telp malah ngambek, padahal cowokku sudah melakukan kegiatan yang super padat disana. Sebenarnya bukan itu, tapi setidaknya dia itu pamit denganku jika memang kondisinya dia lelah dan ingin tidur, bukan justru hilang tanpa kabar saat meneleponku..
Aku senang meski hanya mendengar suaranya, aku juga senang dia sudah menghubungiku tapi aku tidak senang ketika kesenanganku untuk mendengarkan suaranya malah diganti dengan dengkuran dia tertidur tanpa pamit terlebih dahulu. Bisa dibayangkan, aku yang disini sudah menunggu dan berharap dapat kabar dari orang yang benar-benar aku sayangi justru cuma ditinggal tidur. Wajar aku marah ketika sikap dia yang seperti ini terus dan terus ia lakukan, meski kemarahanku itu juga bisa tertolong dengan kesabaranku untuk menemaninya selama dia disana. Semua itu demi hubungan yang sudah kami jalani selama ini, semua harapan yang pernah terlontarkan di mulut kita masing-masing, dan terlebih buat perasaan sayang ini yang membuatku sabar sampai saat ini.
Aku mungkin pernah berpikir apa yang pernah aku perjuangkan demi hubunganku dengannya ini akan berakhir sia-sia atau mungkin kesabaranku menghadapinya selama ini akan berakhir indah pada waktunya??? Pada waktunya yang sampai saat ini pun tidak jelas kapan waktunya itu...
Apa pun nantinya aku juga tidak ingin mempertaruhkan waktuku di dunia ini hanya untuk menunggunya, menunggu sesuatu yang tidak jelas hubungan ini mau seperti apa nantinya...
Satu sama lain harus menunjukkan sikap, apakah dia yakin dan siap untuk terus memperjuangkan hubungan ini atau malah justru memberikan harapan yang indah akan tetapi itu hanya sebuah kepalsuan semata dengan kata-kata indah yang terlontar

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Hidup Tak Semudah yang Dibayangkan

Proses itu lama dan menyakitkan. Ntah, apa pun proses itu yang pasti untuk mendapatkan sesuatu hal yang kita inginkan diperlukan sebuah proses. Tidak ada yang instant dalam hidup ini terlebih untuk mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita.
Coretan-coretan tersebut muncul ketika temen satu kos Nakhel bertekad untuk berhenti kuliah melanjutkan bekerja. Dia adalah anak korban broken home, orang tuanya telah lama bercerai, bahkan ayahnya pun sempat tidak mengakui dia sebagai anaknya. Nakhel berasal dari daerah Ciamis, dia kuliah di UTY mengambil jurusan Manajemen Informatika. Sayang, dia kini tak memiliki semangat untuk melanjutkan kuliahnya lagi. Tak banyak yang tau Nakhel itu orang seperti apa, yang kami tau dia adalah anak yang baik, bersemangat dan tertutup untuk urusan pribadinya.
Mungkin inilah hidup yang sesungguhnya, penuh dengan lika liku, cobaan yang mau gak mau harus dihadapi dan yang pasti hidup tak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Semua tinggal kehendak Sang Kuasa mau seperti apa hidup kita karena bagaimana pun Dialah Sang Pencipta dan Pemilik Dunia ini, Dialah yang menciptakan kita yang nantinya juga kita akan kembali dengan-Nya. Jadi, kita sebaiknya mensyukuri dan jalanilah hidup ini. Meski hidup kita di dunia telah ada yang menentukan untuk kedepannya, tapi ingatlah bahwa kita yang menjalaninya, kita yang nantinya akan menentukan seperti apa jalan hidup kita.
Nakhel, adalah seseorang yang kuat, dia seorang gadis yang mampu melewati hidup yang keras ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Teringat Kembali Ke-11 Tahun yang Lalu

Foto Kebersamaan Kami dengan Ibu (almrh)




Itu adalah foto saat kami masih bersama, saat kami masih tinggal di rumah kami yang dulu (Temanggung) dan saat kami masih belum ditinggal oleh ibu untuk selama-lamanya. Tepatnya kapan foto itu diambil aku kurang tau (maklum saat itu aku kan masih kecil, lupaaa.) tapi setidaknya aku masih memiliki foto itu, yang mungkin akan selalu membuatku mengenang ibuku selamanya. Menceritakan sosok seorang ibu mungkin tidak akan pernah habis, seperti halnya di blog sebelumnya yang telah aku ceritakan sosok seorang ibu.
11 tahun sudah ibu meninggal, 11 tahun juga aku telah ditinggal oleh beliau. Walaupun sudah ada ibu tiri yang menemani bapak sekarang, tapi bagiku keluarga yang aku miliki adalah Mas Fandi dan bapak. Singkat cerita, kini aku telah beranjak dewasa. Aku kini telah kuliah di Jogja, hal ini yang terkadang aku tidak memiliki waktu banyak dirumah meski hanya sekedar kumpul bersama anggota keluarga. Begitu juga Mas Fandi, dia sekarang juga telah bekerja sambil kuliah profesi di Jogja, meski aku dan Mas Fandi sama-sama di Jogja, bukan berarti kami sering bertemu bagaimana pun kami juga memiliki kesibukkan masing-masing. Hanya saja yang saat ini aku rasakan adalah kedekatanku dengan Mas Fandi sekarang jauh lebih baik dari pada yang dulu waktu kami masih tinggal satu rumah. Makan bersama di Jogja berdua dengan Mas Fandi pun terkadang kami sempatkan pula bercerita mengenai kesibukan masing-masing. Menceritakan bagaimana kuliahku, bagaimana pekerjaan Mas Fandi di kantor bahkan tak jarang kami menceritakan urusan pribadi kami (pacar kita masing-masing.) Mungkin kedekatan kami ini karena kita sekarang jarang bertemu, bukan seperti dulu waktu kami masih sama-sama tinggal dirumah, yang ada kami hanya bertengkar terus. Apa pun yang terjadi sekarang ini, aku sangat mensyukurinya.
Bukan hanya kedekatanku dengan Mas Fandi saja yang berkembang baik, tapi dengan bapak pun juga demikian. Aku dan Mas Fandi selalu berusaha untuk setiap hari Sabtu kami pulang kerumah untuk sekedar kumpul bersama keluarga. Saat itu, ketika kami pulnag yang ada dirumah hanya bapak sendiri. Kebetulan ibuku yang sekarang dan adekku sedang berlibur di tempat eyang'nya.
Jujur saat itu aku merasa kembali ke zaman waktu aku, Mas Fandi dan bapak masih bertiga. Sore-sore kami bersantai di teras depan rumah sambil menceritakan kesibukkan kami masing-masing hingga berjam-jam. Serasa ini baru seperti keluarga yang sesungguhnya... yang dulu pernah kami miliki... yang dulu bapak dan ibu (masih ada) membangun sedikit demi sedikit keluarga kecil ini... hingga kini anak-anaknya telah tumbuh dewasa, seorang anak yang hidup tanpa dukungan dan kasih sayang yang benar-benar dari seorang ibu. Sungguh, mungkin ini tidak biasa aku rasakan lagi.
11 tahun telah berlalu begitu saja. Lika liku kehidupan sudah kami lewati dari mulai meninggalnya ibu, bapak menjadi single parent bagi aku dan Mas Fandi, bapak menikah lagi, kemudian kami pindah rumah ke Muntilan yang mau tidak mau kami harus mulai dari nol untuk bersosial dengan masyarakat sekitar, kemudian ibu ke-2 meninggal lagi, dan bapak juga tidak lama menikah kembali, hingga akhirnya kini aku memiliki seorang adek laki-laki dari ibu ku yang ke-3. Semua itu berlalu begitu saja selama 11 tahun,, yang pasti ini adalah garis hidup dari Tuhan untuk keluargaku, yang kami alami ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan.
Ibu ku tersayang...
Semoga suatu saat nanti kita akan dipersatukan kembali...
Mungkin bukan sekarang di dunia yang fana ini...
Tapi mungkin kelak di surga kita akan bersatu kembali..
Tuhan, terima kasih untuk hidup aku ini...
Ini mungkin jalan yang terbaik untukku...
Aku tidak akan lagi menyalahkan-Mu karena yang Engkau berikan ini adalah yang terbaik bagi kehidupanku, kehidupan Mas Fandi dan kehidupan bapak.
Terima Kasih Tuhan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Dunia yang Tak Bisa Dibayangkan

Sempat akhir-akhir ini aku memikirkan tentang hidup setelah mati. Sering kali pikiran itu datang ketika malam hari sebelum aku tertidur, dikamar yang sepi, gelap dan tak ada seorang pun yang tahu. Ketakutan yang sewaktu-waktu bisa datang kapan pun, dimana pun dan siap tidak siap kita harus menghadapinya. Sayang, kita sebagai manusia tidak akan pernah bisa untuk menolak kedatangan sang Malaikat Pencabut nyawa tersebut.
Jujur, aku hanya manusia yang sama sekali tak lepas dari perbuatan dosa. Banyak dosa yang telah aku lakukan di dunia ini. Aku sadar aku harus bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya, menjadi seorang makhluk hidup yang taat akan perintah dan larangan-Nya. Akan tetapi, aku belum bisa menjalankannya dengan baik....

Dunia yang  Tak Bisa Dibayangkan
Jujur, ketika aku ingat kematian sering kali aku takuuuuut membayangkan hal itu jika benar-benar terjadi disaat aku belum siap menghadapinya. Aku takut, hidup setelah mati dan hanya berada di lubang tanah berukuran 2x1 meter, ditutup dengan kain berwarna putih, dimana di dalamnya hanya ada kegelapan dan tak ada seorang pun yang menemani, hanya benar-benar sendiri untuk siap menerima akibat atas perbuatan apa saja yang telah dilakukan di dunia ini.
Malam datang...
Pikiran itu yang akhir-akhir ini sering terlintas dipikiranku. Mungkin karena aku sering memikirkan keadaan Ibu aku yang kini telah meninggal dunia. Sering kali aku berpikir, sedang apakah beliau saat ini? Bagaimanakah beliau disana, diruang gelap dan tak ada seorang pun yang menemaninya? Apakah dunia disana jauh lebih baik dari pada dunia yang disini? Banyak pertanyaan-pertanyaan itu muncul setiap malam.
Kematian pasti akan datang...
Kematian pasti akan dirasakan oleh semua makhluk hidup...
Kematian adalah kehidupan yang kekal dan sebuah kehidupan baru yang tidak akan bisa kita bayangkan bagaimana dunia disana...
Yaa Allah..
Ampuni aku, ampuni segala dosa-dosaku selama di dunia ini. Dosa kecil mau pun dosa besar yang telah aku lakukan di dunia ini. Ampuni juga segala dosa yang telah dilakukan oleh ayah, ibu, kakak, adek dan juga orang-orang yang sangat aku sayangi. Ampuni dosa kita yaa Allah.
Jika telah tiba waktunya Engkau memanggil kami, maka ijinkanlah kami dipanggil dengan keadaan yang Khusnul Khotimah...
Wajarkanlah kematian kami dan jauhkanlah kami semua dari siksa alam kubur dan siksa api nerakamu Yaa Allah..
Akan tetapi jika Engkau mengijinkan, ijinkanlah kami dibukakan pintu taubat sebelum kami dipanggil dihadapanMu, semata-semata hanya untuk memperbaiki kesalahan kami di dunia ini Yaa Allah, amin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Alur Kehidupan

Hidup ini memang hanya sebuah skenario Tuhan. Kita hanya sebagai tokoh dalam menjalani setiap naskah yang telah ditulis-Nya. Awal bahagia, berakhir dengan sebuah kesedihan itu merupakan hal yang biasa untuk kita rasakan. Bertemu kemudian berujung perpisahan juga hal yang mau tidak mau memaksa kita untuk menerimanya.
Hidup ini keras terlebih ketika kita telah memiliki harta dan tahta. Godaan yang sering menerpa adalah sebuah ujian yang harus dihadapi, tinggal bagaimana diri kita menyikapinya. Ntah kita ingin bertahan untuk tetap setia kemudian melawan segala godaan hidup itu atau kita akan goyah dengan godaan itu dan menghancurkan apa pun yang telah kita miliki. Semua yang kita miliki itu kita raih dari nol, butuh perjuangan dan proses jadi, ketika kita sudah meraihnya maka ujian terberat kita adalah mempertahankannya. Aku berharap apa pun yang telah aku miliki di dunia ini, aku akan tetap ingat perjuanganku mendapatkannya. Aku berharap tidak akan pernah lupa dengan diriku sendiri ketika aku telah memiliki semuanya. Aku akan selalu ingat orang-orang disekitar yang telah menemaniku selama proses hidup ini kemudian berjanji pada diriku sendiri untuk berbalik membantu hidup mereka yang sekiranya bisa aku bantu. Hidup hanya sekali setelah itu adalah hari kematian. Semua tidak akan bisa kita rasakan lagi. Sudah cukup jadi orang "nakal" di dunia, ingatlah terus hidup setelah mati maka kamu akan selalu tersadar untuk jadi orang baik dengan siapa pun. Bahagiakan orang-orang disekitarmu, bantulah mereka ketika hidupmu jauh lebih baik karena tanpa mereka kamu bukanlah kamu yang sekarang!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

17 Oktober 2013, 20 tahun

Andre, Aku dan Seli di kos 217
Kamis, 17 Oktober 2013 adalah hari ulang tahun aku yang ke-20. Alhamdulillah, Allah masih mengijinkan aku untuk menghirup udara dunia. Jujur masih saja belum bisa memberikan yang terbaik, masih menjadi seorang hamba yang sepenuhnya belum bisa menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Semoga di usiaku kali ini, semua akan menjadi lebih baik lagi dan diberi barokah, amin.
Tahun ini tidak bisa merayakan bareng keluarga maupun pacar. Disisi lain aku masih menjadi anak perantauan di Yogyakarta dan disisi lain cowokku harus kembali bertugas di Magelang menyelesaikan pendidikannya. Sebelum cowokku kembali bertugas, dia sempat memberikan aku sebuah malaikat kecil yang aku beri nama "Dipra." Malaikat kecil itu adalah sebuah boneka Minion yang selama ini aku inginkan, sudah lama memang aku menginginkan boneka itu. Meski dia memberikannya disaat-saat terakhir dia harus kembali bertugas tapi itu adalah hal yang sangat aku hargai, setidaknya dia memperhatikan aku selama ini.
Bukan hanya itu saja kejutan yang aku dapat tapi, selasa pagi di kosan ternyata mbak-mbak di kos juga ikut memberikan kejutan dihari ultahku itu. Sepotong kue bertuliskan "Happy b'day Ratih" mereka berikan. Selang beberapa menit kemudian siraman air dan tepung dari mereka tak terhindarkan. Tidak hanya pagi saja aku diberi kejutan di hari spesialku ini, malamnya pun sahabat-sahabatku Seli dan Andre sengaja datang ke kos hanya untuk memberikan sebuah kue ulang tahun dan sebuah boneka Minion "LAGI" dari mereka. Alhasil, di ulang tahunku kali ini aku memiliki 2 buah boneka minion yang aku inginkan. Akan tetapi, bukan itu yang aku lihat melainkan rasa perhatian dan peduli dari merekalah yang aku hargai.
Minion "Dipra" dari Mas Dion

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kebaikan yang Salah Untuk Diartikan

Siapa pun orangnya dan sedekat apa pun dia dengan kita mesti akan selalu ada batasannya. Tidak pandang bulu dengan apa yang telah dia beri (kebaikan) kepada kita. Memang kita harus memberikan timbal balik dengan apa yang telah dia beri, tapi kita juga sadar bahwa  tidak selamanya kita bisa memberikan timbal balik juga.
Sebenanrnya aku bingung dengan apa yang aku lakukan saat ini, entah itu langkah yang baik untuk aku lakukan atau tidak. Sedikit demi sedikit aku mencoba untuk menjauh dari sosoknya karena aku tersadar mungkin dulu aku telah salah menilai dia. Ketika aku berusaha untuk "welcome" dengan dia, selalu perhatian dan mencoba memberikan kebaikan kepadanya, justru hal itu salah. Jujur mungkin hanya dia yang bisa peka sedang seperti apakah kondisi aku saat ini.
Yaaah...
Kini aku sudah tersadar dan kini sudah berbeda. Dia, yaa Dia... ibarat kata ketika aku sudah memberikan hati justru dia masih ingin meminta jantung juga. Justru hal itu membuat aku keliru menilai siapa dia sebenarnya. Untung kita dekat baru sebentar dan bersyukur pula kini aku telah menyadari kesalahan aku yang sudah memberikan dia hati. Aku tidak bisa selalu bersama dia, aku juga tidak akan hidup terus bersama dia dan aku juga sadar bahwa kebaikan aku ini tidak akan selamanya bisa dia nikmati karena aku sendiri tidak ingin kebaikan ku selama ini disalah artikan.
Sudah,
Aku sudah sadar kini. Maaf aku harus membatasi ini semua, aku tidak ingin kamu selamanya tergantung dengan kebaikan ku walaupun terkadang aku merasa dirugikan dengan kebaikan yang telah aku beri kepadamu. Saat ini aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku pun kadang butuh waktu untuk privasi diri aku sendiri dan aku juga sangat berharap agar kamu sadar untuk tidak selamanya bergantung pada seseorang saja, bagaimanapun kamu butuh yang namanya "orang lain" sebagai tempat berbagi kamu, bukan hanya 1 orang saja yang bisa kamu andalkan. Kini aku harap kamu bisa peka dengan keadaan disini, kamu baru akan merasakannya ketika orang yang kamu andalkan sedang tidak berada disampingmu dan yang ada hanyalah "orang lain" dimana kamu sedang membutuhkan bantuan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS