Tampilkan postingan dengan label Life is Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life is Adventure. Tampilkan semua postingan

One Day at Jakarta

Berlibur ke luar kota bersama-sama adalah semua pengalaman yang mungkin menjadi salah satu rencana yang bukan sekedar angan-angan saja saat itu.Setelah kami berbuka puasa bersama, sempat kami merencanakan untuk berlibur bersama ke luar kota. Tujuan kami saat itu memang Jakarta karena Rinda dan Clara bekerja disana, yang nantinya merekalah yang akan senantiasa menampung aku dan teman-teman selama di Jakarta. Libur hari raya yang cukup lama akhirnya membuat kita untuk benar-benar merealisasikan rencana kami. Dari melihat jadwal kereta, harga tiket kereta, hingga hidup kami selama di Jakarta nanti. Pada akhirnya kita sepakati bersama 6 orang untuk berlibur ke Jakarta (Aku, Shelly, Mira, Bangun, Frengki dan Agil.) Memang tidak mudah untuk menentukan hari dan tanggal saat itu, tapi dengan niat dan kepastian dari merekalah akhirnya kami bisa juga untuk berangkat ke Jakarta. Sore hari kereta terjadwal dari stasiun Lempuyangan sekitar pukul 16.20 kita sepakat pukul 15.00 kita semua harus sudah berada di stasiun Lempuyangan. Tanpa diduga saat itu posisi kereta sudah tiba dan hanya tinggal beberapa menit lagi berangkat Shelly baru datang sekitar pukul 16.10, ketika teman-teman yang lain sudah berada didalam kereta dan hanya tinggal aku dan Bangun yang menunggu Shelly saat itu ditempat pemeriksaan tiket. Sungguh saat itu dia membuat kita semua khawatir.
Kami akhirnya tiba di stasiun Pasar Senen sekitar pukul 02.00, disana kami sudah ditunggu Clara, Rinda dan teman-temannya di Jakarta untuk menjemput kami semua. Baru sekitar pukul 03.00 kita bisa beristirahat di kosan Rinda dan Clara. Pagi harinya sekitar pukul 09.00 kita bangun dan sambil menunggu antrian kamar mandi kami berbincang-bincang untuk merencanakan akan kemana saja kita mengelilingi Jakarta selama seharian. Akhirnya kami sepakati bahwa objek yang ingin kami kunjungi antara lain: Monas, Kota Tua, dan Bunderan HI. Tiga tempat itu harus kami kunjungi seharian full dengan memanfaatkan alat transportasi seadanya di Jakarta. Sekitar pukul 11.30 kami memulai perjalanan mencari angkot menuju halte Transjakarta. Inilah kami dimanapun kami berada kami tidak ingin melupakan moment-moment perjalanan kami hehehe.
Sekitar pukul 13.00 itu kami sudah berada dikawan Monas Jakarta. Memang buat diri aku sendiri pergi ke Monas sudah berulang kali tapi dengan mereka dan kegilaan ini aku pertama kalinya. Meski matahari saat itu sangat terik tetapi tidak menghalangi kami untuk bersenang-senang disana. Berfoto-foto tidak pernah kami lewatkan, setiap moment ntah pribadi maupun bersama-sama kami tetap melewatinya.




Monas menjadi obyek wisata kami yang pertama. Kami hanya menghabiskan waktu disekitaran wilayah taman Monas saja karena kembali lagi kami terkendala dengan waktu dan transportasi saat itu. Kami membatasi waktu kami untuk tidak berlama-lama berada di Monas agar tujuan selanjutnya bisa tepat waktu kami kunjungi. Sungguh ini menjadi hal yang seru, mengelilingi Monas dengan mereka, penuh dengan candaan-candaan yang tak kunjung habis dengan tingkah laku mereka yang begitu gila dan aneh. Inilah kami yang biasanya sangat takut dengan yang namanya terik matahari tapi tanpa kami sadari selama di Monas kami benar-benar menikmatinya tanpa sadar. Hingga akhirnya kami putuskan sekitar pukul 15.00 kami berjalan kaki untuk mencari halte busway. Melihat gedung-gedung tinggi dan taman-taman yang belum pernah kami lihat sebelumnya.
Tujuan kami yang berikutnya adalah KOTU atau disebut juga dengan Kota Tua Jakarta. Sekitar pukul 17.00 kami sudah berada disana. Sayangnya saat itu sedang ada event yang begitu ram pengunjung sehingga kami tidak bisa leluasa untuk mengambil moment-moment disana. Di Kotu aku dan Shelly memiliki kenangan yang mungkin tidak bisa kami lupakan yaitu, kami berdua sama-sama digodain oleh seorang wanita yang ternyata wanita itu adalah seorang penyuka sesama jenis (lesbi.) Makan bakso dan berbelanja oleh-oleh seperti kaos kami lakukan di Kotu ini.  Kami diberitahu bahwa mungkin kesempatan kami berbelanja hanya di Kotu karena mungkin objek yang terakhir (Bunderan HI) tidak ada pedagang-pedagang yang akan kami jumpai.
Pukul 20.00 kami tiba di kosan Rinda sembari kami istirahat dan mandi setelah seharian berjalan kaki mengililingi Monas dan Kotu dengan keadaan Jakarta yang begitu panas. Hebatnya kami tanpa lelah, kami benar-benar nekat saat itu sekitar pukul 00.00 kami semua memutuskan untuk melanjutkan ke Bunderan HI. Kali ini kami meminjam kendaraan dengan seadanya. Razia polisi Jakarta sekitar pukul 00.30 membuat kami sempat ragu untuk melanjutkan perjalanan kami. Akan tetapi karena dari awal kami sudah berniat untuk kesana, hal itu pun kami lewati begitu saja. Hingga pada akhirnya sekitar pukul 02.00 kami tiba di Bunderan HI. Menikmati malam terakhir di Jakarta yang begitu memberikan kesan tersendiri bagi kami semua.
Keesokan harinya, kami bersiap-siap untuk kembali lagi ke Yogyakarta mengakhiri perjalanan kami selama di Jakarta.
Terima kasih Jakarta . . .
Dan semoga kita akan berjumpa lagi dengan cerita yang berbeda 




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Rafting Ello Magelang ala Mahasiswa

Mas Albi, Mira, Shelly, Aku dan Mas Fandi


Sejak libur semester 4 kemarin, aku sempat ditawarin untuk rafting sama kakakku (mas Fandi.) Namun saat itu terkendala waktu, karena liburan kemaren aku juga berencana untuk pergi ke Jakarta bersama teman-temanku. Sampai akhirnya realisasi untuk rafting tertunda terus hingga kami (aku, Mira dan Shelly) masuk kuliah semester ganjil ini. Belum lagi juga kesibukkan mamas (sebutan untuk kakakku) yang bekerja hingga hari Sabtu. Akhirnya, kami memutuskan untuk hari Minggu, 21 September 2014 meluangkan waktu kami untuk rafting di Citra Elo, Magelang. Walau kesannya sedikit tergesa-gesa dan cepat dari rencana semula yang memilih tanggal 19 Oktober 2014.
Cukup deh sebagai prolognya hehehe, ok?!
Banana Boat ala Pak Supardi
Pagi itu, kami janji untuk kumpul dirumahku pukul 07.30 karena sesuai dengan pemesannya kemaren pukul 08.00 kami harus sudah tiba di Citra Elo. Sesampainya disana mamas melengkapi segala administrasi dan kita menunggu sembari berfoto-foto sebelum akhirnya harus naik angkot untuk datang ke start point Sungai Elo di daerah Blondo. Kalau tidak salah sekitar jam 09.00 selepas kita dapat wejangan dari para pemandu, satu per satu naik ke perahu karet. Kebetulan kami mendapat pemandu bernama Bapak Supardi. Awalnya kami sedikit canggung untuk memulai obrolan (maklum namanya juga pertama kali rafting jadi harus menyiapkan mental dulu hehehe.) Nah, Pak Supardi memulai obrolan dengan menanyakan rombongan kita dari mana, kemudian kami saling menjawab dan bertanya secara bergiliran. Niat kami baik untuk lebih mengenal pemandu di perahu karet kami (biar kelihatan akrab gitu), karena perjalanan sungai Elo yang mencapai panjang 12,5km hingga ke finish point pastinya akan memerlukan waktu 2-4 jam perjalanan. Syukurnya Pak Supardi adalah pemandu yang cukup kocak dalam memandu perjalanan kami. Beliau begitu jail selama di perjalanan, misalnya saja beliau ini sempat diam-diam menarik pelampung Shelly yang saat itu sedang asyik mendayung hingga akhirnya dia jatuh ke sungai. Bukan hanya Shelly saja yang mendapatkan kejailan dari Pak Supardi ini, sempat beliau mengajak kami untuk merasakan banana boat. Ntah kami yang polos atau memang mudah untuk dijaili, kemudian beliau menyuruh kami  untuk duduk dipinggir perahu semua. Saat itu juga ketika kami melaksanakan perintah dari Pak Supardi, tiba-tiba kapal kami terbalik dan begitulah trik dari Pak Supardi untuk menjatuhkan kami semua ke sungai.
Makan Snack
Sudah berapa kali kami terjatuh dari perahu tersebut, begitu ramainya kita dari pada perahu-perahu yang lain karena selain pemandu yang jail kami satu sama lain pun tarik menarik untuk menjatuhkan ke sungai. Awalnya kita berangkat di depan, tapi karena kejailan kita ini perahu kami ada di urutan paling belakang dari rombongan Citra Elo. Sekitar 5-7km kami akhirnya dipersilahkan untuk istirahat sejenak menikmati snack yang sudah dipersiapkan dari pihak Citra Elo. Sembari itu pula kami berfoto lagi untuk melengkapi dokumentasi kita. Badan basah kuyup, dingin dan kelaparan ini yang memutuskan kami untuk tidak terlalu lama berhenti dan melanjutkan jalur berikutnya. Masih dalam kejailan Pak Supardi, kami diberi opsi untuk terjun sendiri ke sungai atau Pak Supardi sendiri yang ingin menjatuhkan kami ke sungai. Yaa, karena aku pribadi tidak mau minum air sungai Elo yang sudah banyak masuk kedalam perut, akhirnya memutuskan untuk turun sendiri dan berenang menikmati sungai Elo. Kami berlima memutuskan untuk turun sendiri dari perahu dan berenang sambil dilihatin para rombongan yang lewat sambil tersenyum melihat tingkah kami ini. Sungguh pengalaman yang asyik dan patut untuk dicoba, terlebih diantara kami berlima ini yang pandai berenang hanyala Mas Albi dan pemandu Pak Supardi. Bermodalkan nekat, niat dan penasaran ini kami akhirnya memutuskan untuk mencoba rafting di Citra Elo.
Makan siang selesai rafting
Bukan kecepatan dan siapa yang paling di depan dalam rombongan yang kami utamakan saat itu. Bagaimana tidak, baru beberapa jam mendayung pun kami sudah tidak kuat lagi untuk mendayung terlebih aku, Shelly dan Mira. Kami hanya duduk diatas perahu menikmati pemandangan sungai Elo dan membiarkan mamas, Mas Albi dan Pak Supardi mendayung perahu kami (hehehe.) Jatuh berulang kali dari perahu, minum air sungai Elo berapa kali kami rasakan, dan rasa capek kami mendayung perjalanan 12,5km ini akhirnya kami selesaikan sekitar 4 jam (hehehe maklum paling belakang dan lama bermain-main) telah dibayarkan dengan menu makan siang yang sudah dipersiapkan dengan menu ayam bakar, sayur, buah dan minum.
Perlu diketahui bagi kalian,
Kami memilih paket Rp. 150.000 @orang
Dengan fasilitas:
  • Sertifikat
  • Snack
  • Makan Siang
  • Foto (soft file) + 10 cetak
Bagi kalian yang mungkin ingin mencoba dan berstatus mahasiswa seperti kita ini, pilihan paket tersebut cukup terjangkau. Meski sebenarnya fasilitas yang lebih bagus juga disediakan.
Selamat mencoba Rafting di Citra Elo ya...

foto rafting 1
foto rafting 2

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Holiday at Ngobaran Beach, Gunungkidul

Mbak Ida, Aku, Mbak Asih, dan Mbak Ikha


 Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta merupakan salah satu kabupaten di Yogyakarta yang banyak diminati oleh para pelancong karena lokasinya yang berdekatan dengan pesisir pantai. Apa lagi dibulan ramadhan saat itu dimana kami semua sedang menikmati libur semester genap ini, menyempatkan waktu untuk menikmati indahnya pantai di daerah Gunungkidul.
Sepakat kami satu kos untuk berangkat ke Gunungkidul karena dapat tawaran ke pantai sekaligus berkunjung ke rumahnya Mbak Lina. Maklum, meski satu kos dengan mbak-mbak itu kesempatan kami untuk bersama-sama meluangkan waktu sedikit agak susah untuk mengaturnya, kesibukkan satu sama lain yang terkadang sulit untuk menyempatkan waktu pergi bersama.
Singkat cerita...
Ntah kenapa jalan Patuk, tepatnya jalan raya, berliku, curam, ramai dan sempit yang dilewati kendaraan setelah gapura selamat datang di Kabupaten Gunungkidul itu membuat jantung aku dagdigdug. Dulu pernah disitu aku ketilang polisi bersama Shelly dan sekarang secara tidak sengaja aku menabrak kucing yang sungguh-sungguh membuatku shock! Kaget, takut dan bingung harus berbuat apa saat itu, setelah menabrak kucing itu aku hanya bisa berhenti, diam, dan melihat kucing itu terkapar ditengah jalan hingga akhirnya diambil oleh seorang cewek yang kebetulan berada dipinggir jalan itu.Segala macam mitos dari mbak-mbak pun langsung terngiang-ngiang dipikiran dan telingaku, duh. Langsung malamnya aku bercerita dengan Dion dan alhamdulillah dia menenangkan aku dengan membaca Al-Qur'an bersama-sama (meski sebelumnya diomelin dulu sama dia.)
Aku, Mbak Ida, dan Mbak Lina di Pantai Ngobaran
Aku tidak mau menjadi beban tersendiri akan kejadian itu, niatku datang kemari hanyalah untuk bersilaturahmi dengan keluarganya Mbak Lina dan menikmati pantai di Gunungkidul bersama mereka. Setibanya kami dirumahnya Mbak Lina sekitar pukul 13.00 dengan jalan yang panas disertai kami sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, kami memutuskan untuk pergi ke pantai Ngobaran. Perjalanan sekitar 30 menit dari rumahnya Mbak Lina tak terasa lelahnya hingga kami tiba disana. Sungguh pantai yang bukan hanya sekedar pantai biasa, disana terdapat semacam pura layaknya di pantai Kuta dengan suara ombak dan pasir putihnya yang sangat disayangkan jika terlewati begitu saja. Masih dibilang sepi saat itu karena bertepatan dengan puasa Ramadhan ini yang mungkin banyak orang enggan untuk berkunjung ke pantai. Sekitar pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang karena saat itu kami belum shalat Ashar. Perjalanan pulang menuju rumah Mbak Lina, kami diajak melewati jalan pedesaan yang dimana jalan itu melewati hutan, dengan jalan masih berbatu dan motorku vario matic yang benar-benar terasa panas pantatku (saking jauh dan lamanya di perjalanan.) Benar-benar ini ulahnya Mbak Lina yang usil dan sengaja untuk melewati jalan itu, namun diluar dugaan setibanya kami keluar dari jalan yang berbatu itu motor Mbak Lina kempes dan tidak bisa jalan (ada rasa senengnya sih karena uda berhasil membuat pantatku ini panas hahaha.) Untungnya jalan keluar itu dekat dengan Pantai Kodok yang dulu pernah aku datangi dan merupakan pantai yang mungkin masih alami karena belum begitu familiar ditelinga para wisatawan. Kami sempat singgah di pantai itu hingga sekitar pukul 17.00 kami memutuskan untuk pulang dan menjalankan ibadah shalat Ashar di rumahnya Mbak Lina.
Alhamdulillah kami masih bisa menyempatkan berbuka bersama dirumahnya Mbak Lina hingga dapat ikut shalat trawih di desanya Mbak Lina. Cukup kaget shalat trawih disana, dengan shalat Isya' 4 rakaat dan trawih 11 rakaat pukul 19.30 kami sudah selesai semuanya, padahal kalau di Jogja pukul 20.00 itu uda cepet shalat trawih selesai. Tapi sayang, malam itu yang merasakannya hanya aku, Desi (adeknya Mbak Lina) dan ibunya karena mbak-mbak ada yang masih mandi dan tidak bisa ikut shalat karena halangan. Inget juga saat itu, kami satu kos memang tidak bisa melewatkan salah satu sinetron Ganteng-ganteng Serigala dimana saat itu kami menonton acara tersebut harus menumpang kerumah neneknya Mbak Lina. Lucu memang kami bela-belakan untuk menumpang hanya untuk sebuah sinetron, tapi yaa bagaimana lagi ini lah kami dengan segala keunikan yang ada di kos 217 hehehe. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidur karena malamnya kami harus sahur dan keesokan harinya kami harus kembali ke Jogja pada pukul 08.00 dimana kami semua sepakat untuk tidak mandi pagi sampai tiba di kos hehehe (ini juga ciri khas kami 217 hehe.)
Bersyukur bisa bersama dengan mereka, karena aku tahu bahwa kelak kami tidak bisa seperti ini lagi. Kami semua anak perantauan yang kebetulan tinggal bersama-sama di kos 217 dan suatu saat nanti kita akan berpisah. Aku tidak ingin melewatkannya begitu saja, aku ingin punya cerita dan pengalaman yang sangat berkesan dengan mereka. Karena dengan mereka, aku seperti berada di dalam sebuah keluarga yang saling menyayangi, peduli dan perhatian satu sama lain. Jika kelak tiba waktunya untuk berpisah dengan mereka, aku hanya ingin mereka tahu bahwa mereka akan selalu menjadi salah satu hal yang terpenting dan berkesan didalam kehidupanku.
Dengan merekalah aku selalu merasa tinggal bersama keluargaku sendiri
Terima kasih mbak-mbak atas liburannya kali ini, sangat berkesan!
Mbak Lina, Aku, Mbak Asih, Mbak Ida, Mbak Ika, dan Desi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS