Holiday at Ngobaran Beach, Gunungkidul

Mbak Ida, Aku, Mbak Asih, dan Mbak Ikha


 Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta merupakan salah satu kabupaten di Yogyakarta yang banyak diminati oleh para pelancong karena lokasinya yang berdekatan dengan pesisir pantai. Apa lagi dibulan ramadhan saat itu dimana kami semua sedang menikmati libur semester genap ini, menyempatkan waktu untuk menikmati indahnya pantai di daerah Gunungkidul.
Sepakat kami satu kos untuk berangkat ke Gunungkidul karena dapat tawaran ke pantai sekaligus berkunjung ke rumahnya Mbak Lina. Maklum, meski satu kos dengan mbak-mbak itu kesempatan kami untuk bersama-sama meluangkan waktu sedikit agak susah untuk mengaturnya, kesibukkan satu sama lain yang terkadang sulit untuk menyempatkan waktu pergi bersama.
Singkat cerita...
Ntah kenapa jalan Patuk, tepatnya jalan raya, berliku, curam, ramai dan sempit yang dilewati kendaraan setelah gapura selamat datang di Kabupaten Gunungkidul itu membuat jantung aku dagdigdug. Dulu pernah disitu aku ketilang polisi bersama Shelly dan sekarang secara tidak sengaja aku menabrak kucing yang sungguh-sungguh membuatku shock! Kaget, takut dan bingung harus berbuat apa saat itu, setelah menabrak kucing itu aku hanya bisa berhenti, diam, dan melihat kucing itu terkapar ditengah jalan hingga akhirnya diambil oleh seorang cewek yang kebetulan berada dipinggir jalan itu.Segala macam mitos dari mbak-mbak pun langsung terngiang-ngiang dipikiran dan telingaku, duh. Langsung malamnya aku bercerita dengan Dion dan alhamdulillah dia menenangkan aku dengan membaca Al-Qur'an bersama-sama (meski sebelumnya diomelin dulu sama dia.)
Aku, Mbak Ida, dan Mbak Lina di Pantai Ngobaran
Aku tidak mau menjadi beban tersendiri akan kejadian itu, niatku datang kemari hanyalah untuk bersilaturahmi dengan keluarganya Mbak Lina dan menikmati pantai di Gunungkidul bersama mereka. Setibanya kami dirumahnya Mbak Lina sekitar pukul 13.00 dengan jalan yang panas disertai kami sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan, kami memutuskan untuk pergi ke pantai Ngobaran. Perjalanan sekitar 30 menit dari rumahnya Mbak Lina tak terasa lelahnya hingga kami tiba disana. Sungguh pantai yang bukan hanya sekedar pantai biasa, disana terdapat semacam pura layaknya di pantai Kuta dengan suara ombak dan pasir putihnya yang sangat disayangkan jika terlewati begitu saja. Masih dibilang sepi saat itu karena bertepatan dengan puasa Ramadhan ini yang mungkin banyak orang enggan untuk berkunjung ke pantai. Sekitar pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang karena saat itu kami belum shalat Ashar. Perjalanan pulang menuju rumah Mbak Lina, kami diajak melewati jalan pedesaan yang dimana jalan itu melewati hutan, dengan jalan masih berbatu dan motorku vario matic yang benar-benar terasa panas pantatku (saking jauh dan lamanya di perjalanan.) Benar-benar ini ulahnya Mbak Lina yang usil dan sengaja untuk melewati jalan itu, namun diluar dugaan setibanya kami keluar dari jalan yang berbatu itu motor Mbak Lina kempes dan tidak bisa jalan (ada rasa senengnya sih karena uda berhasil membuat pantatku ini panas hahaha.) Untungnya jalan keluar itu dekat dengan Pantai Kodok yang dulu pernah aku datangi dan merupakan pantai yang mungkin masih alami karena belum begitu familiar ditelinga para wisatawan. Kami sempat singgah di pantai itu hingga sekitar pukul 17.00 kami memutuskan untuk pulang dan menjalankan ibadah shalat Ashar di rumahnya Mbak Lina.
Alhamdulillah kami masih bisa menyempatkan berbuka bersama dirumahnya Mbak Lina hingga dapat ikut shalat trawih di desanya Mbak Lina. Cukup kaget shalat trawih disana, dengan shalat Isya' 4 rakaat dan trawih 11 rakaat pukul 19.30 kami sudah selesai semuanya, padahal kalau di Jogja pukul 20.00 itu uda cepet shalat trawih selesai. Tapi sayang, malam itu yang merasakannya hanya aku, Desi (adeknya Mbak Lina) dan ibunya karena mbak-mbak ada yang masih mandi dan tidak bisa ikut shalat karena halangan. Inget juga saat itu, kami satu kos memang tidak bisa melewatkan salah satu sinetron Ganteng-ganteng Serigala dimana saat itu kami menonton acara tersebut harus menumpang kerumah neneknya Mbak Lina. Lucu memang kami bela-belakan untuk menumpang hanya untuk sebuah sinetron, tapi yaa bagaimana lagi ini lah kami dengan segala keunikan yang ada di kos 217 hehehe. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk tidur karena malamnya kami harus sahur dan keesokan harinya kami harus kembali ke Jogja pada pukul 08.00 dimana kami semua sepakat untuk tidak mandi pagi sampai tiba di kos hehehe (ini juga ciri khas kami 217 hehe.)
Bersyukur bisa bersama dengan mereka, karena aku tahu bahwa kelak kami tidak bisa seperti ini lagi. Kami semua anak perantauan yang kebetulan tinggal bersama-sama di kos 217 dan suatu saat nanti kita akan berpisah. Aku tidak ingin melewatkannya begitu saja, aku ingin punya cerita dan pengalaman yang sangat berkesan dengan mereka. Karena dengan mereka, aku seperti berada di dalam sebuah keluarga yang saling menyayangi, peduli dan perhatian satu sama lain. Jika kelak tiba waktunya untuk berpisah dengan mereka, aku hanya ingin mereka tahu bahwa mereka akan selalu menjadi salah satu hal yang terpenting dan berkesan didalam kehidupanku.
Dengan merekalah aku selalu merasa tinggal bersama keluargaku sendiri
Terima kasih mbak-mbak atas liburannya kali ini, sangat berkesan!
Mbak Lina, Aku, Mbak Asih, Mbak Ida, Mbak Ika, dan Desi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

"Mbak" dan Efek Sampingmu

Semenjak ibu meninggal sejak aku umur 9 tahun, efeknya baru kerasa saat-saat ini. Dulu aku sudah terbiasa ada sosok "mbak" (pembantu) didalam rumah yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari bersih-bersih, mencuci, menyetrika dan masak. Hanya saja setelah ibu meninggal dan papi sempet jadi single parent, seketika semua urusan pekerjaan rumah papi yang nanggung. Aku masih kecil saat itu, kelas 4 SD dan kakakku kelas 1 SMP. Urusan bersih-bersih, mencuci dan menyapu masih bisa kami tangani tapi kalau urusan dapur selalu papi yang mengurusnya. Tak selang setahun kemudian, kami dapat "mbak" lagi yang mau menyelesaikan pekerjaan rumah, setidaknya beban papi sedikit berkurang. Adanya mbak sangat membantu terlebih urusan rumah dengan kondisi saat itu tidak ada sosok seorang ibu dirumah.
Kebiasaan itulah yang kini sangat bisa aku rasakan efek sampingnya. Semenjak ibu meninggal dan ketergantungan karena adanya "mbak"  inilah yang membuat aku sampai saat ini belum begitu mahir terlebih untuk urusan dapur. Gimana tidak, sejak kecil sudah tidak ada ibu yang dapat aku temani di dapur dan semenjak itulah ketergantungan urusan dapur diserahkan ke "mbak."
Nah, sekarang? Setelah aku beranjak dewasa ini, yang kelak akan membangun sebuah keluarga? Tidak bisa membedakan mana itu merica, ketumbar dan miri?
Sungguh memalukan... 
Yaa, memalukan memang seorang cewek belum bisa memasak huft..
Jujur aku merasakan itu, beban tersendiri dalam hidupku jika kalian tahu. 
Aku malu ketika teman-temanku bercerita tentang kesibukannya mereka dirumah untuk memasak. Merasa di tampar keras kalau aku denger itu. Belum lagi kalau melihat bagaimana temanku membuat sebuah masakan yang kemudian disajikan buat kita semua orang-orang disekitarnya atau lebih nyesek lagi kalau melihat teman kita asyik berada didapur bersama ibunya untuk membuat masakan bersama-sama bagi kita semua, yang pasti bangga dan memiliki kepuasan tersendiri, dan sedangkan aku? Aku didalam hati hanya bisa menunduk malu..
Bagaimana aku bisa memasak jika dari dulu hidup aku sudah seperti ini. Dimanjakan oleh "mbak" dan tidak memiliki ibu yang kebanyakan dari teman-temanku jika mereka bisa memasak karena dibantu oleh ibunya. Sedangkan aku? Kepada siapa aku harus bertanya?
Aku inget betul kalau dulu ibuku pandai memasak, beliau bahkan mengoleksi berbagai alat-alat dapur yang sebagian kini masih tersimpan. Bahkan kalau uda mendekati lebaran, ibu selalu membuat kue kering sendiri, kadang yang harusnya berbentuk bunga malah dibuat bentuk mobil sama papi atau mas saat itu.
Jujur, aku sering membayangkan kalau masih ada ibu mungkin aku bisa seperti mereka, Membuat masakan yang nantinya akan aku sajikan buat kalian semua dan yang pasti kalian akan ketagihan karena resep dan bantuan dari ibu. Sayang itu hanya berandai-andai...
Kini hidup aku berbeda, aku harus memulai dari NOL untuk menghafal semua jenis rempah-rempah didapur. Tanpa bantuan ibu yang tidak mungkin bisa membantuku. 
Ini mungkin cerita yang sepele tapi apa pun itu jangan dianggap enteng karena aku tau meski aku telah terlambat untuk belajar memasak, hal itu harus tetap aku pelajari dengan perlahan. Kelak itu akan sangat bermanfaat ketika aku telah berkeluarga besok. Meski aku tidak bisa menyajikan masakanku sekarang buat orang-orang disekitar tapi aku akan berusaha akan menyajikan masakanku untuk keluarga kecilku besok!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS