Team S'koci

Faris, Kumle, Ogel, Aku, Miul
26 Maret 2014, kami mengikuti lomba BNI Marketers Bazaar di Lapangan PKKH Purnabudaya UGM, lomba ini kami ikuti dari pukul 08.00-18.00. H-1 sebelum acara ini dimulai kami benar-benar mempersiapkan keperluan kami dalam event ini. Pagi dari pukul 08.00 kami sudah tiba di rumahnya si Faris, karena kebetulan kami membuat Mochi dirumahnya. Yaaa, Mochi Ice Cream adalah produk yang kami perjualkan dalam event ini. Setengah mati kami mati-matian untuk perlombaan ini. Dengan niat dan tekad kami memberanikan diri untuk ikut meski kami yakin pesaing-pesaing yang juga ikut dalam event ini juga sangat kuat. 
Desain Baju Team Skoci
Bersama dengan mereka aku banyak mengambil pelajaran. Kami berlatih untuk dapat merasakan susahnya mencari uang dengan keringat kami sendiri, dari pagi hingga malam dan bahkan itu semua hampir dilakukan setiap hari. Makan seadanya, kadang ada yang membawa beras kemudian dimasak dirumahnya Faris, ada juga yang hanya sekedar makan angkringan setelah seharian membuat mochi, ada juga yang hanya makan mie dengan suguhan es teh beramai-ramai, dan semua itu kami sudah sangat merasa bersyukur. Makan dengan seadanya seteah seharian bekerja membuat mochi bersama-sama mereka, hal itu yang mungkin tidak akan pernah kami lupakan. Bukan hanya urusan makan saja kami jalani dengan apa adanya, bahkan untuk urusan beribadah pun kami lakukan dengan sederhana, ikhlas dan jamaah. Artinya, kami selalu menyempatkan diri untuk meluangkan waktu melaksanakan ibadah shalat 5 waktu berjamaah. Disela-sela istirahat membuat mochi kami menyempatkan waktu untuk beribadah, kadang yang menjadi imam adalah si Faris tapi kadang juga Kumle. Jujur, kedua orang cowok itu aku akuin fasih dalam melafalkan ayat-ayat suci Al-qur'an. Mendengarkan ayat-ayat suci keluar dari mulut mereka seakan hati aku bergetar mendengarnya, sungguh mereka membuat aku malu, malu karena aku tidak bisa fasih seperti mereka. Terkadang terbesit dalam doaku ketika berjamaah dengan mereka agar Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk bisa menjadi seperti mereka, semoga Allah mengijinkan aku untuk melafalkan ayat-ayat suci Al-qur'an seperti mereka. dan terbesit pula dalam sujudku semoga Allah mengabulkannya, amin.
Kembali lagi dalam event ini.
Brosur Event Marketers
Lomba ini membuat kami merasa puas, mengapa? Iya, setelah seharian kami mempersiapkan semuanya hingga hari H kami dapat membuat mochi sekitar 130an untuk dibawa dalam lomba tersebut. Kami tiba pukul 08.00 dan hal yang tidak kami duga, puji syukur mochi kami laku semua hingga pukul 11.00 siang. Artinya, kami tidak ingin membuang kesempatan kami ini karena lomba selesai hingga pukul 17.00 kami memutuskan siang itu juga untuk memproduksi lagi mochi ice cream. Dengan segala keterbatasan bahan dan juga waktu, kami hanya mampu membuat sekitar 30an mochi. Kami bawa produksi mochi kedua kami pukul 15.00 dan sekali lagi, 15 menit setelah baru tiba disana mochi kami sudah langsung diburu habis dengan pengunjung disana. Alhamdulillah mochi kami semua laku keras saat itu. Perjuangan kami untuk mempersiapkan semua itu pun dibalas dengan rasa lega dan bangga kami. Setelah beberapa hari kami meluangkan waktu dari rutinitas kami sebagai seorang mahasiswa, akhirnya perjuangan ini tidak sia-sia. Meski kami tidak dapat memenangkan lomba ini, tetapi pengalaman mencari uang sendiri dengan jeripayah kami sendiri, serta segala pengorbanan kami dalam menjaga kekompakan team inilah yang menjadi kebanggaan tersendiri. Mereka, Faris, Kumle (Farel), Miul dan Aida adalah sebuah team yang konsekuen dengan apa yang telah mereka lakukan, mereka bertanggung jawab, bahkan mereka bukan hanya sekedar sebuah team, mereka telah menjadi seperti keluarga.. keluarga yang sama-sama mengawali dari nol, mengawali dengan sebuah kesederhanaan dan mengawali semua itu dengan sifat religius didalamnnya.
Mereka team yang hebat...
Jujur aku bangga menjadi salah satu bagian dari kehidupan kalian ini..
Kelak pengalaman ini akan selalu menjadi bagian terindah hingga masa tua nanti


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kado Valentine Dari Tuhan


Debu Di Lantai Atas (Jemuran)

Bulan Februari banyak ditunggu-tunggu oleh para pasangan yang sedang memadu kasih. Bulan kasih sayang ini dimanfaatkan oleh semua orang untuk menyatakan perasaannya kepada pasangannya. Bisa dikatakan bulan ini identik dengan namanya coklat, yaaah maklum kebanyakan setiap pasangan saling memberikan coklat satu sama lain sebagai makna kasih sayang mereka. Coklat yang manis adalah salah satu cara setiap pasangan menyatakan perasaan manis mereka terhadapa pasangannya.
Tanpa diduga-duga oleh banyak orang, hari valentine day's tahun ini Tuhan juga ikut merayakannya. Meletusnya Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur pada tanggal 13 Februari 2014 pukul 22.55 waktu setempat, membuat semua orang terkejut. Dahsyatnya letusan gunung tersebut membuat semua orang panik karena letusan tersebut juga membawa hujan abu yang sangat pekat dengan jarak hujan abu tersebut hingga ke Yogyakarta, bahkan sampai ke Bandung, Jawa Barat
Keadaan Depan Kos
Cerita kali ini diawali pada hari Kamis, 13 Februari 2014, malam sebelum meletusnya Gunung Kelud. Malam itu aku diajak pergi kakakku ke Amplas. Kami berangkat dari kos ku pukul 19.00 hingga aku meminta kepada kakakku untuk pulang sebelum pukul 21.00 karena keesokan harinya ada tugas yang harus dikumpulkan dan posisi aku sama sekali belum mengerjakannya. Singkat cerita aku jalan-jalan dengan kakakku di Amplas, aku langsung masuk kamar kos ku pukul 20.45. Mungkin karena kecapekan aku memutuskan untuk tidur cepat dan baru akan mengerjakan tugasku keesokan harinya. Malam itu belum ada pukul 23.00 aku sudah tertidur, tapi ntah kenapa malam itu aku merasa kepanasan hingga terbangun beberapa kali. Hingga paginya alarm HP ku berbunyi pada pukul 05.40 untuk ibadah shalat subuh (hehehe jujur aku masih susah untuk bangun pagi, terutama buat shalat subuh.) Mungkin karena sudah terbiasa, setiap kali aku keluar kamar untuk mengambil air wudhu yang aku lihat selalu langit cerah (kesiangan), wajar saja kamar kos ku langsung berhadapan dengan luar. Begitu pula saat itu, karena alarmku telat bunyi hingga pukul 05.40 aku belum mengambil air wudhu, dengan buru-buru aku langsung bangkit dan keluar kamar. Masyaallah...!!! aku saat itu langsung terkejut, terasa sekali saat itu aku di lantai 2 kamar kosku, sendirian keluar kamar, dan terkejut biasanya langit sudah cerah tiba-tiba saat itu hampir pukul 06.00 langit masih gelap gulita seperti malam hari, benar-benar masih gelap sama sekali tidak ada sinar matahari. Sungguh, aku berasa saat itu seperti hari terakhirku di dunia ini. Dengan rasa takut dan kaget saat itu aku langsung menggedor-gedor kamar mbak Lina dan berteriak "ini kenapa?apa yang terjadi langit masih tampak gelap gulita dan hanya ada hujan abu yang pekat dengan bau belerangnya yang kuat?" Sumpah,,, saat itu aku langsung membangunkan semua kamar kos yang ada di lantai 2. Kebetulan juga malam sebelumnya penghuni kos semua tidur cepat, hingga akhirnya kami langsung berkumpul di kamarku menyalakan televisi mencari tahu apa yang terjadi, hingga akhirnya kami mendapat kabar bahwa itu semua adalah efek dari Gunung Kelud yang meletus pada malam sebelumnya.

Setelah kami tahu bahwa hujan abu yang kami dapatkan ini akibat dari meletusnya gunung Kelud, kami langsung menyusun rencana untuk berkerja bakti membersihkan kos-kosan
(maklum kos 217 ini bagaikan rumah kontrakan dimana kami tinggal satu rumah tanpa bapak kos kami.)
Sebenarnya, kos 217 ini berpenghuni sekitar 12 orang tapi, kebetulan saat kejadian itu di kos hanya tinggal kami ber-5 yaitu, aku, mbak asih, mbak tia, mbak ika dan mbak lina.
Penghuni kos yang lain masih ada yang sedang libur semester, kerja bahkan pulang kampung.
Mbak Asih dan Mbak Tiara
Rencana pertama yang kami susun adalah mengisi perut kami, dimana kami saat itu beramai-ramai membuat nasi goreng, baru sekitar pukul 10.50 kami memulai membersihkan kos. Kami mulai dari lantai atas, tepatnya genteng, kemudian lantai depan kamar kos kita masing-masing, dilanjutkan tempat jemuran, baru kemudian kami membersihkan lantai bawah.
Aku, mbak asih dan mbak tiara sempat dibikin kaget dengan betapa banyaknya abu yang kami dapatkan di tempat jemuran. 6 ember berisikan penuh abu yang kami dapatkan dan itu hampir sama dengan 1 karung beras atau bahkan lebih besar berisikan abu tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS