Kado Valentine Dari Tuhan


Debu Di Lantai Atas (Jemuran)

Bulan Februari banyak ditunggu-tunggu oleh para pasangan yang sedang memadu kasih. Bulan kasih sayang ini dimanfaatkan oleh semua orang untuk menyatakan perasaannya kepada pasangannya. Bisa dikatakan bulan ini identik dengan namanya coklat, yaaah maklum kebanyakan setiap pasangan saling memberikan coklat satu sama lain sebagai makna kasih sayang mereka. Coklat yang manis adalah salah satu cara setiap pasangan menyatakan perasaan manis mereka terhadapa pasangannya.
Tanpa diduga-duga oleh banyak orang, hari valentine day's tahun ini Tuhan juga ikut merayakannya. Meletusnya Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur pada tanggal 13 Februari 2014 pukul 22.55 waktu setempat, membuat semua orang terkejut. Dahsyatnya letusan gunung tersebut membuat semua orang panik karena letusan tersebut juga membawa hujan abu yang sangat pekat dengan jarak hujan abu tersebut hingga ke Yogyakarta, bahkan sampai ke Bandung, Jawa Barat
Keadaan Depan Kos
Cerita kali ini diawali pada hari Kamis, 13 Februari 2014, malam sebelum meletusnya Gunung Kelud. Malam itu aku diajak pergi kakakku ke Amplas. Kami berangkat dari kos ku pukul 19.00 hingga aku meminta kepada kakakku untuk pulang sebelum pukul 21.00 karena keesokan harinya ada tugas yang harus dikumpulkan dan posisi aku sama sekali belum mengerjakannya. Singkat cerita aku jalan-jalan dengan kakakku di Amplas, aku langsung masuk kamar kos ku pukul 20.45. Mungkin karena kecapekan aku memutuskan untuk tidur cepat dan baru akan mengerjakan tugasku keesokan harinya. Malam itu belum ada pukul 23.00 aku sudah tertidur, tapi ntah kenapa malam itu aku merasa kepanasan hingga terbangun beberapa kali. Hingga paginya alarm HP ku berbunyi pada pukul 05.40 untuk ibadah shalat subuh (hehehe jujur aku masih susah untuk bangun pagi, terutama buat shalat subuh.) Mungkin karena sudah terbiasa, setiap kali aku keluar kamar untuk mengambil air wudhu yang aku lihat selalu langit cerah (kesiangan), wajar saja kamar kos ku langsung berhadapan dengan luar. Begitu pula saat itu, karena alarmku telat bunyi hingga pukul 05.40 aku belum mengambil air wudhu, dengan buru-buru aku langsung bangkit dan keluar kamar. Masyaallah...!!! aku saat itu langsung terkejut, terasa sekali saat itu aku di lantai 2 kamar kosku, sendirian keluar kamar, dan terkejut biasanya langit sudah cerah tiba-tiba saat itu hampir pukul 06.00 langit masih gelap gulita seperti malam hari, benar-benar masih gelap sama sekali tidak ada sinar matahari. Sungguh, aku berasa saat itu seperti hari terakhirku di dunia ini. Dengan rasa takut dan kaget saat itu aku langsung menggedor-gedor kamar mbak Lina dan berteriak "ini kenapa?apa yang terjadi langit masih tampak gelap gulita dan hanya ada hujan abu yang pekat dengan bau belerangnya yang kuat?" Sumpah,,, saat itu aku langsung membangunkan semua kamar kos yang ada di lantai 2. Kebetulan juga malam sebelumnya penghuni kos semua tidur cepat, hingga akhirnya kami langsung berkumpul di kamarku menyalakan televisi mencari tahu apa yang terjadi, hingga akhirnya kami mendapat kabar bahwa itu semua adalah efek dari Gunung Kelud yang meletus pada malam sebelumnya.

Setelah kami tahu bahwa hujan abu yang kami dapatkan ini akibat dari meletusnya gunung Kelud, kami langsung menyusun rencana untuk berkerja bakti membersihkan kos-kosan
(maklum kos 217 ini bagaikan rumah kontrakan dimana kami tinggal satu rumah tanpa bapak kos kami.)
Sebenarnya, kos 217 ini berpenghuni sekitar 12 orang tapi, kebetulan saat kejadian itu di kos hanya tinggal kami ber-5 yaitu, aku, mbak asih, mbak tia, mbak ika dan mbak lina.
Penghuni kos yang lain masih ada yang sedang libur semester, kerja bahkan pulang kampung.
Mbak Asih dan Mbak Tiara
Rencana pertama yang kami susun adalah mengisi perut kami, dimana kami saat itu beramai-ramai membuat nasi goreng, baru sekitar pukul 10.50 kami memulai membersihkan kos. Kami mulai dari lantai atas, tepatnya genteng, kemudian lantai depan kamar kos kita masing-masing, dilanjutkan tempat jemuran, baru kemudian kami membersihkan lantai bawah.
Aku, mbak asih dan mbak tiara sempat dibikin kaget dengan betapa banyaknya abu yang kami dapatkan di tempat jemuran. 6 ember berisikan penuh abu yang kami dapatkan dan itu hampir sama dengan 1 karung beras atau bahkan lebih besar berisikan abu tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Ungkapan yang Tersembunyi

Ada kalanya tidak semua hal bisa kita ceritakan atau kita bagi dengan siapa pun itu orangnya. Ntah itu karena hal yang benar-benar privasi buat diri kita atau bahkan karena kita sendiri yang tidak bisa merangkai kata-kata untuk menyampaikannya. Bisa jadi karena faktor tidak ingin ada yang tersinggung atau tersakiti dengan kata-kata yang nantinya kita ceritakan.
Langsung saja cerita kali ini lagi, lagi dan lagi tentang cowokku, Dion. Aku dulu sempat marah dan ngambek ketika dia hilang begitu saja tidak ada kabar. Kebiasaan dia yang pergi tanpa pamit, online tiba-tiba off tanpa pamit, di telp kemudian hening tanpa suara begitu dan begitu seterusnya.
Aku tidak mau menuntut dia setiap hari harus kasih kabar, tapi aku cuma ingin dia tidak datang dan menghilang begitu saja.
Aku disini menunggu... menunggu dan berharap aku bisa berkomunikasi dengannya.
Seiring berjalannya hubungan kami ini, satu sama lain juga telah saling mengenal dan memahami kebiasaan masing-masing (terutama aku yang kini mulai hafal dengan kebiasaannya.) Aku tahu dia capek, aku tahu jadwalnya dia pasti padat dan aku pun tahu dia juga berusaha untuk dapat berkomunikasi meski dengan peraturan-peraturan dia disana, tapi semua itu aku hadapi dengan kesabaran. Yaah, dia memang bukan cowok yang memiliki kehidupan bebas seperti di luar sini. Jujur terkadang aku merasa kasihan, ketika dia memiliki banyak waktu luang yang mungkin jarang sekali dia dapatkan, dia justru mempergunakan waktu itu untuk meneleponku (yaaaah, meski ujung-ujungnya tidak sampai 60 menit dia sudah tertidur) dan sifat dia yang satu ini pun masih dia terapkan sampai saat ini. Boleh saja kalian kira aku cewek yang tidak beruntung, sudah dibela-belain telp malah ngambek, padahal cowokku sudah melakukan kegiatan yang super padat disana. Sebenarnya bukan itu, tapi setidaknya dia itu pamit denganku jika memang kondisinya dia lelah dan ingin tidur, bukan justru hilang tanpa kabar saat meneleponku..
Aku senang meski hanya mendengar suaranya, aku juga senang dia sudah menghubungiku tapi aku tidak senang ketika kesenanganku untuk mendengarkan suaranya malah diganti dengan dengkuran dia tertidur tanpa pamit terlebih dahulu. Bisa dibayangkan, aku yang disini sudah menunggu dan berharap dapat kabar dari orang yang benar-benar aku sayangi justru cuma ditinggal tidur. Wajar aku marah ketika sikap dia yang seperti ini terus dan terus ia lakukan, meski kemarahanku itu juga bisa tertolong dengan kesabaranku untuk menemaninya selama dia disana. Semua itu demi hubungan yang sudah kami jalani selama ini, semua harapan yang pernah terlontarkan di mulut kita masing-masing, dan terlebih buat perasaan sayang ini yang membuatku sabar sampai saat ini.
Aku mungkin pernah berpikir apa yang pernah aku perjuangkan demi hubunganku dengannya ini akan berakhir sia-sia atau mungkin kesabaranku menghadapinya selama ini akan berakhir indah pada waktunya??? Pada waktunya yang sampai saat ini pun tidak jelas kapan waktunya itu...
Apa pun nantinya aku juga tidak ingin mempertaruhkan waktuku di dunia ini hanya untuk menunggunya, menunggu sesuatu yang tidak jelas hubungan ini mau seperti apa nantinya...
Satu sama lain harus menunjukkan sikap, apakah dia yakin dan siap untuk terus memperjuangkan hubungan ini atau malah justru memberikan harapan yang indah akan tetapi itu hanya sebuah kepalsuan semata dengan kata-kata indah yang terlontar

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS